(Tema : Individu Keluarga dan Masyarakat)
Aspek individu, keluarga, dan masayarakat adalah
aspek-aspek sosial yang tidak bisa dipisahkan. Ketiganya mempunyai keterkaitan
yang sangat erat. Tidak akan pernah ada keluarga, dan masyarakat apabila tidak
ada individu. Sementara di pihak lain untuk mengembangkan eksistensinya sebagai
manusia, maka individu membutuhkan keluarga dan masyarakat, yaitu media di mana
individu dapat mengekspresikan aspek sosialnya. Di samping itu, individu juga
membutuhkan kebudayaan yakni wahana bagi individu untuk mengembangkan dan
mencapai potensinya sebagai manusia.
Lingkungan sosial yang pertama kali dijumpai individu dalam hidupnya
adalah lingkungan keluarga. Di dalam keluargalah individu mengembangkan
kapasitas pribadinya. Di samping itu, melalui keluarga pula individu
bersentuhan dengan berbagai gejala sosial dalam rangka mengembangkan
kapasitasnya sebagai anggota keluarga. Sementara itu, masyarakat merupakan
lingkungan sosial individu yang lebih luas. Di dalam masyarakat, individu
mengejewantahkan apa-apa yang sudah dipelajari dari keluarganya. Mengenai
hubungan antara individu dan masyarakat ini, terdapat berbagai pendapat tentang
mana yang lebih dominan. Pendapat-pendapat tersebut diwakili oleh Spencer, Pareto,
Ward, Comte, Durkheim,
Summer, dan Weber. Individu belum bisa dikatakan sebagai
individu apabila dia belum dibudayakan. Artinya hanya individu yang mampu
mengembangkan potensinya sebagai individulah yang bisa disebut individu. Untuk
mengembangkan potensi kemanusiaannya ini atau untuk menjadi berbudaya dibutuhkan
media keluarga dan masyarakat.
Masalah individu
keluarga dan masyarakat dalam faktor biologis yaitu salah satunya adalah
penularan penyakit hepatitis yang sekarang sedang marak di lingkungan sekitar. Hepatitis B merupakan masalah
kesehatan dunia, termasuk Indonesia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
memperkirakan bahwa hepatitis B merupakan penyebab lebih dari 780.000 kematian
tiap tahun di dunia. Di Indonesia sendiri, hasil
Riset Kesehatan Dasar pada tahun 2007 menunjukkan bahwa prevalensi hepatitis B
sebesar 9,4%. Hal ini berarti satu dari 10 penduduk Indonesia terinfeksi
Hepatitis B. Sayangnya, hanya satu dari lima penderita hepatitis B di Indonesia
yang sadar bahwa mereka mengidap penyakit ini. Oleh karena itu individu
keluarga dan masyarakat seharusnya sadar akan masalah sosial seperti itu
apabila tidak menjaga lingkungan maka individu keluarga dan masayarakat pula
yang akan terkena imbasnya,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar